5 Fakta Unik SMA Kolese De Britto Jogja: Boleh Gondrong & Berpakaian Bebas

SMA Kolese De Britto Yogyakarta berdiri tegak sebagai anomali yang menyegarkan di tengah kaku dan seragamnya sistem pendidikan menengah di Indonesia. Jika sekolah lain mewajibkan potongan rambut pendek ala militer dan seragam OSIS yang rapi setiap harinya, De Britto justru memberikan kebebasan bagi para siswanya untuk memanjangkan rambut hingga gondrong. Fenomena ini bukan sekadar soal gaya, melainkan simbol dari nilai humanisme dan penghargaan terhadap identitas diri yang telah menjadi napas sekolah ini selama puluhan tahun.

Kebijakan mengenai pakaian bebas yang diterapkan di sekolah ini juga menjadi daya tarik unik yang membedakannya dari institusi lain. Alih-alih melihat keseragaman kain sebagai bentuk disiplin, De Britto meyakini bahwa kedewasaan tidak tumbuh dari apa yang dikenakan di badan, melainkan dari cara berpikir. Para siswa diperbolehkan mengenakan kemeja, kaos berkerah, bahkan celana jeans, yang menciptakan atmosfer belajar lebih santai namun tetap penuh tanggung jawab. Hal ini melatih siswa untuk mampu menempatkan diri dan memilih busana yang pantas tanpa harus didikte oleh aturan yang mengekang.

Di balik tampilan fisik yang terkesan “rebel” atau santai tersebut, terdapat filosofi pendidikan Jesuit yang sangat kuat, yakni Cura Personalis atau pemeliharaan pribadi secara utuh. Kebebasan berambut gondrong dan berpakaian bebas adalah sarana untuk mendidik siswa mengenai konsekuensi dan integritas. Sekolah memberikan kepercayaan penuh kepada siswanya, dan sebagai imbalannya, para siswa dituntut untuk membuktikan bahwa penampilan yang tidak konvensional bukan penghalang untuk meraih prestasi akademik maupun pembentukan karakter yang luhur.

Lingkungan yang demokratis ini secara tidak langsung membentuk mentalitas siswa De Britto menjadi pribadi yang berani, kritis, dan percaya diri. Dengan tidak adanya tekanan untuk “seragam” secara fisik, ego dan keunikan setiap individu dihargai, sehingga persaingan yang muncul adalah persaingan kualitas diri, bukan sekadar kepatuhan buta pada aturan formalitas. Hal ini menciptakan persaudaraan (man for others) yang erat di antara siswa, karena mereka merasa diterima apa adanya tanpa memandang latar belakang atau gaya penampilan.

Pada akhirnya, keunikan SMA Kolese De Britto menjadi bukti bahwa kedisiplinan tidak selalu harus lahir dari penyeragaman. Rambut gondrong dan baju bebas hanyalah “bungkus” luar dari sebuah proses pendidikan yang jauh lebih dalam, yaitu memanusiakan manusia. Lulusan De Britto diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki jiwa yang merdeka dan mampu menjadi pemimpin di masyarakat dengan karakter yang otentik.

Berikut ini 5 Fakta Unik namun penuh filosofis siswa SMA Kolese berambut gondrong dan berpakaian bebas:

1. Pahami Prinsip “Bebas tapi Pantas”

Meskipun tidak memakai seragam, bukan berarti kamu bisa memakai baju tidur atau pakaian yang tidak sopan ke sekolah. Gunakan pakaian yang bersih, rapi, dan mencerminkan bahwa kamu siap untuk belajar. Kebebasan berpakaian adalah latihan untuk menempatkan diri dalam situasi profesional di masa depan.

2. Rambut Gondrong Tetap Harus Terawat

Jika kamu memutuskan untuk memanjangkan rambut, pastikan kamu tetap menjaga kebersihannya. Rambut gondrong di De Britto adalah simbol identitas, bukan alasan untuk terlihat kusam. Jangan sampai penampilanmu yang bebas justru mengganggu fokus belajarmu atau kenyamanan orang lain.

3. Fokus pada Kualitas, Bukan Formalitas

Di sekolah ini, orang tidak akan menilaimu dari seberapa rapi kemejamu, tapi dari seberapa tajam pemikiranmu dan seberapa besar kontribusimu dalam diskusi. Gunakan energi yang biasanya habis untuk urusan seragam untuk mengasah intelektual dan kepedulian sosialmu.

4. Latih Kedisiplinan Internal

Tanpa aturan kaku dari luar, kamu harus menjadi “polisi” bagi dirimu sendiri. Kamu dituntut untuk bisa mengatur waktu, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan menaati nilai-nilai sekolah tanpa perlu diawasi secara ketat. Ini adalah ujian karakter yang sesungguhnya.

5. Bangun Semangat Man for Others

Kebebasan individu di De Britto selalu bersanding dengan semangat pelayanan. Jangan biarkan penampilanmu yang unik membuatmu merasa eksklusif. Tetaplah rendah hati dan selalu siap membantu sesama (komunitas), karena itulah inti dari menjadi seorang Pressman (sebutan siswa De Britto).

Scroll to Top